Senin, 26 Desember 2011

SEJARAH BERDIRINYA PROVINSI JAMBI










Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi menyusul gugurnya Sulthan Thaha Saifuddin tanggal 27 April 1904 dan berhasilnya Belanda menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi, maka Jambi ditetapkan sebagai Keresidenan dan masuk ke dalam wilayah Nederlandsch Indie. Residen Jambi yang pertama O.L Helfrich yang diangkat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No.20 tanggal 4 Mei 1906 dan pelantikannya dilaksanakan tanggal 2 Juli 1906.

Kekuasan Belanda atas Jambi berlangsung ±36 tahun karena pada tanggal 9 Maret 1942 terjadi peralihan kekuasaan kepada Pemerintahan Jepang. Dan pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkanlah Negara Republik Indonesia. Sumatera disaat Proklamasi tersebut menjadi satu Provinsi yaitu Provinsi Sumatera dan Medan sebagai ibukotanya dan Mr. Teuku Muhammad Hasan ditunjuk memegangkan jabatan Gubernurnya.

Pada tanggal 18 April 1946 Komite Nasional Indonesia Sumatera bersidang di Bukittinggi memutuskan Provinsi Sumatera terdiri dari tiga Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.

Sub Provinsi Sumatera Tengah mencakup keresidenan Sumatra Barat, Riau dan Jambi. Tarik menarik Keresidenan Jambi untuk masuk ke Sumatera Selatan atau Sumatera Tengah ternyata cukup alot dan akhirnya ditetapkan dengan pemungutan suara pada Sidang KNI Sumatera tersebut dan Keresidenan Jambi masuk ke Sumatera Tengah. Sub-sub Provinsi dari Provinsi Sumatera ini kemudian dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948 ditetapkan sebagai Provinsi.

Dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, keresidenan Jambi saat itu terdiri dari 2 Kabupaten dan 1 Kota Praja Jambi. Kabupaten-kabupaten tersebut adalah Kabupaten Merangin yang mencakup Kewedanaan Muara Tebo, Muaro Bungo, Bangko dan Batanghari terdiri dari kewedanaan Muara Tembesi, Jambi Luar Kota, dan Kuala Tungkal. Masa terus berjalan, banyak pemuka masyarakat yang ingin keresidenan Jambi untuk menjadi bagian Sumatera Selatan dan dibagian lain ingin tetap bahkan ada yang ingin berdiri sendiri. Terlebih dari itu, Kerinci kembali dikehendaki masuk Keresidenan Jambi, karena sejak tanggal 1 Juni 1922 Kerinci yang tadinya bagian dari Kesultanan Jambi dimasukkan ke keresidenan Sumatera Barat tepatnya jadi bagian dari Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK).

Tuntutan keresidenan Jambi menjadi daerah Tingkat I Provinsi diangkat dalam Pernyataan Bersama antara Himpunan Pemuda Merangin Batanghari (HP-MERBAHARI) dengan Front Pemuda Jambi (FROPEJA) Tanggal 10 April 1954 yang diserahkan langsung Kepada Bung Hatta (Wakil Presiden) di Bangko, yang ketika itu berkunjung kesana. Penduduk Jambi saat itu tercatat kurang lebih 500.000 jiwa (tidak termasuk Kerinci).

Keinginan tersebut diwujudkan kembali dalam Kongres Pemuda se-Daerah Jambi 30 April s/d 3 Mei 1954 dengan mengutus tiga orang delegasi yaitu Rd. Abdullah, AT. Hanafiah dan H. Said serta seorang penasehat delegasi yaitu Bapak Syamsu Bahrun menghadap Mendagri Prof. Dr.Mr. Hazairin.

Berbagai kebulatan tekad setelah itu bermunculan baik oleh gabungan parpol, Dewan Pemerintahan Marga, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Merangin, Batanghari. Puncaknya pada kongres rakyat Jambi 14-18 Juni 1955 di gedung bioskop Murni terbentuklah wadah perjuangan Rakyat Jambi bernama Badan Kongres Rakyat Djambi (BKRD) untuk mengupayakan dan memperjuangkan Jambi menjadi Daerah Otonomi Tingkat I Provinsi Jambi.

Pada Kongres Pemuda se-daerah Jambi tanggal 2-5 Januari 1957 mendesak BKRD menyatakan Keresidenan Jambi secara de facto menjadi Provinsi selambat-lambatnya tanggal 9 Januari 1957.

Sidang Pleno BKRD tanggal 6 Januari 1957 pukul 02.00 dengan resmi menetapkan keresidenan Jambi menjadi Daerah Otonomi Tingkat I Provinsi yang berhubungan langsung dengan pemerintah pusat dan keluar dari Provinsi Sumatera Tengah. Dewan Banteng selaku penguasa pemerintah Provinsi Sumatera Tengah yang telah mengambil alih pemerintahan Provinsi Sumatera Tengah dari Gubernur Ruslan Mulyohardjo pada tanggal 9 Januari 1957 menyetujui keputusan BKRD.

Pada tanggal 8 Februari 1957 Ketua Dewan Banteng Letkol Ahmad Husein melantik Residen Djamin gr. Datuk Bagindo sebagai acting Gubernur dan H. Hanafi sebagai wakil Acting Gubernur Provinsi Djambi, dengan staf 11 orang yaitu Nuhan, Rd. Hasan Amin, M. Adnan Kasim, H.A. Manap, Salim, Syamsu Bahrun, Kms. H.A.Somad. Rd. Suhur, Manan, Imron Nungcik dan Abd Umar yang dikukuhkan dengan SK No.009/KD/U/L KPTS, tertanggal 8 Februari 1957 dan sekaligus meresmikan berdirinya Provinsi Jambi di halaman rumah Residen Jambi (kini Gubernuran Jambi).

Pada tanggal 9 Agustus 1957 Presiden RI Ir. Soekarno akhirnya menandatangani di Denpasar Bali, Undang-Undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 tentang Pembentukan Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Dengan Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958 tanggal 25 Juli 1958 Undang-Undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Tentang Pembentukan Daerah Sumatera Tingkat I Sumatera Barat, Djambi dan Riau. (Undang-Undang Nomor 75 Tahun 1957) sebagai Undang-undang.

Dalam Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958 disebutkan pada Pasal 1 hurup b, bahwa daerah Swatantra Tingkat I Jambi wilayahnya mencakup wilayah daerah Swatantra Tingkat II Batanghari, Merangin, dan Kota Praja Jambi serta Kecamatan-Kecamatan Kerinci Hulu, Tengah dan Hilir.

Kelanjutan Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958 tersebut pada tanggal 19 Desember 1958 Mendagri Sanoesi Hardjadinata mengangkat dan menetapkan Djamin gr. Datuk Bagindo Residen Jambi sebagai Dienst Doend DD Gubernur (residen yang ditugaskan sebagai Gubernur Provinsi Jambi dengan SK Nomor UP/5/8/4). Pejabat Gubernur pada tanggal 30 Desember 1958 meresmikan berdirinya Provinsi Jambi atas nama Mendagri di Gedung Nasional Jambi (sekarang gedung BKOW). Kendati de jure Provinsi Jambi di tetapkan dengan Undang-Undang Darurat 1957 dan kemudian Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958 tetapi dengan pertimbangan sejarah asal-usul pembentukannya oleh masyarakat Jambi melalui BKRD maka tanggal Keputusan BKRD 6 Januari 1957 ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Jambi, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Djambi Nomor 1 Tahun 1970 tanggal 7 Juni 1970 tentang Hari Lahir Provinsi Djambi.

Adapun nama Residen dan Gubernur Jambi mulai dari masa kolonial sampai dengan sekarang adalah sebagai berikut:

Masa Kolonial, Residen Belanda di Jambi adalah:
O.L. Helfrich (1906-1908)
A.J.N Engelemberg (1908-1910)
Th. A.L. Heyting (1910-1913)
AL. Kamerling (1913-1915)
H.E.C. Quast (1915 – 1918)
H.L.C Petri (1918-1923)
C. Poortman (1923-1925)
G.J. Van Dongen (1925-1927)
H.E.K Ezerman (1927-1928)
J.R.F Verschoor Van Niesse (1928-1931)
W.S. Teinbuch (1931-1933)
Ph. J. Van der Meulen (1933-1936)
M.J. Ruyschaver (1936-1940)
Reuvers (1940-1942)
Tahun 1942 s/d 1945 Jepang masuk ke Indonesia termasuk Jambi.


Masa Kemerdekaan REPUBLIK INDONESIA, Residen Jambi:
Dr. Segaf Yahya (1945)
R. Inu Kertapati (1945-1950)
Bachsan (1950-1953)
Hoesin Puang Limbaro (1953-1954)
R. Sudono (1954-1955)
Djamin Datuk Bagindo (1954-1957) - Acting Gubernur
6 Januari 1957 BKRD menyatakan Keresidenan Jambi menjadi Propinsi
8 Februari 1957 peresmian propinsi dan kantor gubernur di kediaman Residen oleh Ketua Dewan Banteng. Pembentukan propinsi diperkuat oleh Keputusan Dewan Menteri tanggal 1 Juli 1957, Undang-Undang Nomor 1 /1957 dan Undang-Undang Darurat Nomor 19/1957 dan mengganti Undang-Undang tersebut dengan Undang-Undang Nomor 61/1958.

Masa PROVINSI JAMBI, Gubernur Jambi:
M. Joesoef Singedekane (1957-1967)
H. Abdul Manap (Pejabat Gubernur 1967-1968)
R.M. Noer Atmadibrata (1968-1974)
Djamaluddin Tambunan, SH (1974-1979)
Edy Sabara (Pejabat Gubernur 1979)
Masjchun Sofwan, SH (1979-1989) dengan Wakil Gubernur Drs. H. Abdurrahman Sayoeti
Drs. H. Abdurrahman Sayoeti (1989-1999) dengan Wakil Gubernur: Musa, dilanjutkan Drs. Hasip Kalimudin Syam
Drs. H. Zulkifli Nurdin, MBA (1999-2005) dengan Wakil Gubernur: Uteng Suryadiatna dilanjutkan Drs. Hasip Kalimudin Syam
Dr. Ir. H. Sudarsono H, SH., MA (Pejabat Gubernur 2005)
Drs. H. Zulkifli Nurdin, MBA (2005-2010) dengan Wakil Gubernur Drs. H. Antony Zeidra Abidin
H. Hasan Basri Agus (2010-2015) dengan Wakil Gubernur H. Fachrori Umar

KEBUDAYAAN MELAYU KUNO





Sebelum agama Islam hadir dan berkembang ternyata agama Budha lebih dulu berkembang dan mencapai puncak kejayaannya. Di Jambi kehadiran agama Budha telah melahirkan corak Kebudayaan Melayu Kuno yang diidentifikasi sebagai Kebudayaan Melayu Budhis. Perkembangan kebudayaan Melayu Budhis menempati rentang waktu panjang dengan periode sebagai berikut:
Masa munculnya agama Budha sekitar abad 1 M.
Masa perkembangan sekitar abad 4-6 Masehi.
Masa kejayaan sekitar abad 6-11 Masehi.
Masa menurun sekitar 11-14 Masehi.

Saat kedatangan agama Budha di Jambi tidak dapat ditentukan kepastiannya. Kita hanya mampu memperkirakan kedatangan agama Budha sekitar abad 1 M sesuai dengan tahun Saka. Masa perkembangan agama Budha di Jambi tandai adanya peristiwa penting antara lain sebagai berikut:
Munculnya kerajaan tua seperti Kan-to-li dan Ho-lo-tan di daerah Jambi, dll.
Berdiri biara-biara Budhis di sepanjang DAS Batanghari.
Munculnya permukiman penduduk di sepanjang DAS Batanghari.
Terjalin hubungan antara Jambi dengan Cina

Masa kejayaan agama Budha berlangsung sekitar abad 6 - 11 M dan pada masa ini terjadi hal-hal penting antara lain sebagai berikut:
Munculnya kerajaan Mo-lo-yeu yang diidentifikasi sebagai Melayu.
Munculnya kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim
Muaro Jambi dan Solok Sipin (Jambi) mulai berfungsi sebagai pusat pendidikan agama Budha di Asia Tenggara lautan.
Kawasan pantai timur Jambi mulai berfungsi sebagai pusat perdagangan dan sebagai sabuk pengaman (balustrade) kerajaan Melayu.

Setelah mengalami masa kejayaan, maka kejayaan Kebudayaan Melayu Kuno yang Budhistis mengalami masa menurun (abad 11 - 14 M) dengan raja terakhirnya Tun Telanai (1080 - 1168 M). Merosotnya kebesaran Budhis di Jambi ini ditandai dengan terjadinya hal-hal sebagai berikut:
Runtuhnya kerajaan Sriwijaya karena serangan Angkatan Laut Cola dari India tahun 1017, 1025, dan tahun 1030 Masehi.
Adanya pergeseran sistem nilai budaya di dalam masyarakat Melayu Budhistis ke Islami.
Pusat perdagangan di pantai timur Jambi pindah ke wilayah Riau kepulauan dan kemudian pindah lagi ke Semenanjung Malaya.

Masa tenggelam kebudayaan Melayu Kuno di Jambi sekitar abad 14 - 19 Masehi. Lalu awal abad 20 Masehi umat Budhis di Jambi muncul kembali, namun masyarakat pendukungnya (minoritas kreatif dan mayoritas kreatifnya) berbeda dengan umat Budhis sebelumnya. Kenyataan ini berarti telah terputusnya rantai sejarah (missinglink) umat Budhis daerah Jambi.

LATAR BELAKANG BUDAYA MELAYU JAMBI




AL. Kroeber dalam bukunya Anthropologi menyebutkan bahwa ada 8 (delapan) ras terpenting di dunia yakni Ras Caucasoid, Mongoloid, Negroid, Bushman, Veddoid, Austroloid, Polynesian; dan Ras Ainu. Jauh sesudah zaman Es maka Ras Mongoloid menyebar keselatan benua Asia bahkan sampai ke benua Amerika melalui selat Bering. Salah satu sub-ras Mongoloid adalah Malayan Mongoloid yang mendominasi penduduk Asia Tenggara lautan dan daratan Masyarakat yang berbudaya Melayu merupakan percampuran dari hasil perpaduan orang Austro-Melanisoid dari selatan dengan Paleoo-Mongoloid dari utara. Dengan dasar ini maka manusia Melayu adalah percampuran antara banyak sub-ras manusia dan perpaduan antara banyak macam pengaruh kebudayaan sejak 10.000 SM.

Manusia Anstro-Melanisoid pada mulanya menempati kawasan dekat pantai dan sungai-sungai, hidup di dalam goa batu kerang stau abris sous roches. Sekarang lokasi goa goa batu karang terletak jauh di pedalaman. Goa ini dijumpai di Sumatera (Jambi, Medan, Langsa/Aceh), Sulawesi, Irian, Kedah dan Pahang Malaysia.

Migrasi manusia Ras Mongoloid masuk perairan Asia Tenggara melahirkan manusia Proto Malay (Melayu Tua) dan Deutro Malay (Melayu Muda). Tapi tidak dapat diketahui kepastian kapan penyebaran itu dimulai, ahli sejarah hanya menghasilkan interpretasi terhadap temuan benda-benda budaya yang tinggalkan Ini pun jumlahnya sangat terbatas sehingga terbatas pula apa yang dapat diungkapkan.

Diperkirakan migrasi Paleao-Mongoloid ke Asia Tenggara terjadi dalam periode Prasejarah yang sangat panjang antara tahun 10.000 SM sampai tahun 2.000 SM Di Asia Tenggara manusia Paleao Mongoloid ini bertemu dengan manusia Austro-Melanisoid yang melahirkan manusia Proto Malay. Pada masa Indonesia memasuki zaman logam, maka antara tahun 2000-500 SM dan antara tahun 500 SM - sampai menginjak awal abad Masehi terjadi lagi migrasi penduduk dari daerah Tonkin, Dongson di pegunungan Bascon-Hoabinh, Vietnam ke Asia Tenggara lautan. Penyebaran manusia pada periode ini adalah percampuran manusia Proto Malay dengan Ras Mongoloid yang melahirkan manusia Deutro Malay.

Manusia Proto Malay mengembangkan kebudayaan batu tua yakni Kebudayaan Kapak Persegi dan Kebudayaan Kapak Lonjong. Kapak Persegi disebut Kapak Genggam atau Kapak Sumatera, sedangkan kapak lonjong disebut Kapak Pendek. Peralatan hidup manusia Proto Malay antara lain adalah alat-alat mikrolit, serpihan batu obsidian. Manusia Deutro Malay di Indonesia mengembangkan kebudayaan. Manusia Deutro Malay sangat penting artinya bagi sejarah penyebaran suku bangsa di Indonesia karena mereka inilah yang dianggap sebagai cikal bakal Orang Melayu dan Kebudayaan Melayu.

Kebudayaan Dongson masuk Indonesia melalui 2 (dua) arah. Pertama dari Vietnam menyebar ke Kamboja, Thailand, Malaysia, Sumatera, Jawa, dan menuju ke Nusa Tenggara. Di daerah inilah berkembang kebudayaan Kapak Persegi atau Kapak Genggam stan Kapak Sumatera. Kedua, dari daratan Asia, menuju Taiwan, Filipina, Sulawesi, Maluku dan Irian berkembang kebudayaan Kapak Lonjong. Untuk pulau Sumatera telah teridentifikasi paling kurang ada 6 etnik tertua antara lain:
1) Suku Kerinci di kaldera danau Kerinci.
2) Suku Besemah (Pasemah) di lembah Dempo.
3) Suku Ranau di Lampung disekitar danau Ranau
4) Suku Minang di lembah danai Singkarsk/Maninjau.
5) Suku Batak Toba di danau Toba.
6) Suku Alas Gayo di tanah Gayo Aceh.

Sejak ratusan tahun lampau wilayah Jambi telah dihuni oleh etnis Melayu seperti Suku Kerinci, Suku Batin, Suku Bangsa Duabelas, Suku Penghulu, dan Suku Kubu atau Suku Anak Dalam. Pada masa lampau mereka ini telah melatar-belakangi perkembangan bahasa Melayu, budaya Melayu, maupun pasang naik dan turun kerajaan Melayu di daerah Jambi. Begitu pula halnya mereka telah melewati perjalanan sejarah yang teramat panjang diawali masa Pra Sejarah, Melayu Budhis, dan Melayu Islam, sampai masa perjuangan melawan penjajah dan periode kemerdekaan.

Sebelum abad Masehi etnis Melayu di Jambi telah mengembangkan suatu corak kebudayaan Malaya Pra Sejarah di wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Masyarakat pendukung kebudayaan ini antara lain adalah Suku Kerinci. Orang Kerinci diperkirakan telah menempati kaldera danau Kerinci sekitar tahun 10.000 SM sampai tahun 2000 SM Mereka telah mengembangkan kebudayaan batu seperti kebudayaan Neolitikum. Pada zaman dahulu yang dimaksud dengan wilayah Kerinci adalah mencakup daerah yang disebut dalam adat Jambi sebagai Kerinci Atas dan Kerinci Rendah. Istilah Kerinci berawal dari kata Korintji yang artinya negeri di atas bukit. Diperkirakan sekitar awal abad 1 Masehi agama Budha mulai hadir di daerah Jambi. Kehadiran agama Budha ini telah mendorong lahir dan berkembangnya suatu corak Kebudayaan Melayu Budhis. Kebudayaan ini diidentifikasi sebagai corak kebudayaan Melayu Kuno. Kehadiran Kebudayaan Melayu Budhis ini di daerah Jambi menempati rentang waktu (periode) yang panjang, yaitu:
1) Masa munculnya agama Budha sekitar abad 1 Masehi.
2) Masa perkembangan sekitar ahad 4-6 Masehi.
3) Masa kejayaan sekitar abad 6-11 Masehi.
4) Masa menurun sekitar 11-14 Masehi.
5) Masa tenggelam sekitar abad 14-19 Masehi.
6) Masa muncul kembali sekitar awal abad 20 Masehi hingga sekarang.

Pada, masa kebudayaan Melayu Budhis mulai mundur, maka bersamaan periodenya kebudayaan Melayu Islam mulai berkembang. Kehadiran Islam di Jambi diperkirakan terjadi pada akhir abad 7 M sampai sekitar awal abad 11 M. Pada awal abad 11 M, ajaran Islam mulai menyebar ke seluruh lapisan masyarakat pedalaman Jambi. Dalam penyebaran Islam ini maka pulau Berhala dipandang sebagai pulau yang teramat penting dalam sejarah Islam di Jambi. Kehadiran Islam ini telah membawa perubahan mendasar bagi kehidupan sosial/masyarakat Melayu Jambi. Agama Islam secara pelan-pelan tapi pasti, mulai menggeser kebudayaan Melayu Budhis sampai berkembangnya suatu corak Kebudayaan Melayu Islam.

Dewasa ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu Jambi lebih dominan unsur Islaminya. Di dalam hal kebiasaan tradisi terlihat adanya akulturasi antara unsur kebudayaan yang Islami dengan corak Melayu Kuno yang Budhistis. Unsur-unsur kebudayaan Melayu Jambi antara lain adalah sebagai berikut (Fachruddin Saudagar, 2006):
1) Upacara Kepercayaan Tradisional.
2) Sistem Masyarakat.
3) Gotong Royong
4) Perkawinan.
5) Kepemimpinan.
6) Pendidikan.
7) Bahasa.
8) Kesenian.
9) Pergaulan Muda Mudi.
10) Mata Pencarian.
11) Bangunan.
12) Peralatan dan Perlengkapan Hidup (Teknologi).
13) Permainan.
14) Pengelolaan Sumberdaya Alam.
15) Makanan dan Minuman.
16) Ilmu Pengetahuan.
17) Pajak Negeri.
18) Hukum Adat.
19) Pengobatan tradisional.

Dari berbagai sumber, diantaranyo dari buku Anthropologi (AL. Kroeber), dan beberapa artikel hasil penelitian Fachruddin Saudagar (Peneliti Sejarah dan Budaya Melayu Jambi).

MAKNA MELAYU











Walaupun di sekitar kita simbol-simbol Melayu telah berubah dan berkembang bahkan telah hilang dimakan usia dan zaman, namun Tak Melayu Hilang Di Bumi. Secara psikologis semboyan ini menyadarkan kita bahwa keberadaan Melayu di kawasan Asia Tenggara akan selalu hadir dan mewarnai kehidupan manusianya.

Di dalam beberapa karya ilmiah penulisan kata Melayu tidak seragam dan dijumpai banyak macam penulisannya seperti malaya, malayu, malai, malayu, malaiyur, mo-lo-yeu, ma-la-yo-eul. Dalam bahasa Melayu Jambi kata Melayu ditulis dengan kata; (1) melayau yang artinya luluh atau tak berdaya, (2) melayi artinya pergi jauh, (3) melangun (dari bahasa Kubu) artinya hidup mengembara (nomaden). Dalam bahasa Tamil (India) kata Melayu berawal dari Malay artinya bukit atau gunung.

Namun demikian di balik istilah Melayu terdapat paling kurang 4 makna Melayu. Menurut Fachruddin Saudagar (1997) dalam makalahnya Jambi Diantara Melayu Dengan Sriwijaya, Seminar, 19 - 20 September 1997, Universitas Jambi, kata Melayu paling kurang mengandung 4 makna, yaitu:

1. Pertama, Makna Melayu Sebagai Etnis
Makna Melayu Sebagai Etnis menunjukkan bahwa etnis Melayu ada beragam sesuai dengan tempat dan wilayahnya. Dalam arti luas etnis Melayu ialah masyarakat (society) yang berkebudayaan Melayu dengan wilayah penyebarannya mendiami kepulauan Nusantara, dengan batas ke utara mencapai Taiwan dan Okinawa, ke Barat mencapai Madagaskar, ke Timur mencapai kepulauan Hawai, Solomon, Fiji, Samoa, ke Selatan mencakup Australia. Namun dewasa ini hampir di semua Negara terdapat komunitas etnis Melayu. Dalam arti terbatas etnis Melayu dapat dibedakan lagi ke dalam 2 pengertian sebagai berikut:
a) Masyarakat Melayu (community/gemeinschaft) yang melestarikan dan mengembangkan tradisi lokal
b) Masyarakat Melayu (community/gemeinschaft) yang meletarikan dan mengembangkan corak kebudayaan Melayu Islam

Di daerah Jambi etnis Melayu itu antara lain adalah Suku Kerinci, Suku Batin, Suku Bangsa Duabelas, Suku Penghulu, dan Suku Kubu, dll. Kemudian berbagai etnis dari daerah sekitar berdatangan masuk ke Jambi seperti etnis Jawa, Palembang, Minang, Bugis, Banjar, Bajau, Arab, Cina, dll. Mereka memasuki daerah Jambi tentunya dengan latar belakang yang berbeda-beda.

2. Kedua, Makna Melayu Sebagai Kebudayaan
Makna Melayu Sebagai Kebudayaan menunjukkan bahwa etnis Melayu sejak ratusan tahun lampau telah melahirkan suatu corak kebudayaan Melayu Jambi. Kebudayaan Melayu Jambi memiliki unsur-unsur budaya yang merupakan karakteristik Melayu Jambi. Kebudayaan Melayu Jambi terbentuk melalui proses sejarah yang panjang mulai dari Melayu Pra-Sejarah, Melayu Budhis, dan Melayu Islam. Kebudayaan Melayu Islam Jambi adalah perpaduan antara produk masyarakat Islam Melayu di Jambi. Inti atau hakikat Kebudayaan Islam Melayu Jambi adalah Adat Bersendi Syarak dan Syarak Bersendi Kitabullah.

3. Ketiga, Makna Melayu Sebagai Bahasa
Makna Melayu Sebagai Bahasa menunjukkan masing-masing etnis dan puak-puak itu memiliki bahasa lokal dengan keragaman dialek bahasanya. Berdasarkan fakta sejarah, etnis Melayu Jambi paling kurang telah menggunakan 4 macam bentuk bahasa tulisan yakni huruf Pallawa, huruf Encong Kerinci dan Arab Gundul Melayu Jambi, dan Latin.

4. Keempat, Makna Melayu Sebagai Kerajaan Tua
Makna Melayu Sebagai Kerajaan menunjukkan bahwa etnis Melayu di Jambi telah mampu melahirkan 2 kerajaan terkenal yakni kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Kerajaan Melayu (Mo-lo-yeu) pernah disebut dalam berita Cina tahun 644 M. Sedangkan Sriwjiaya pertama kali disebut dalam berita Cina pada tahun 671 Masehi. Kerajaan Melayu dipandang sebagai kerajaan penting yang merupakan wilayah inti (inner core) Sriwijaya. Para ahli sejarah menempatkan pusat kerajaan Melayu dan Sriwijaya itu di Jambi.

Empat (4) makna Melayu seperti tersebut di atas masih dapat direkonstruksi keberadaanya di daerah Jambi. Tidak berlebihan kiranya ke 4 makna Melayu itu adalah bangkar identitas Melayu Jambi.

KEBUDAYAAN MELAYU ISLAM

Istilah Melayu dan Islam adalah 2 hal yang berbeda substansi. Melayu adalah istilah yang berkaitan dengan sebagian umat manusia di belahan bumi ini. Sedangkan Islam adalah berkaitan dengan kepercayaan yang dianut oleh sebagian umat manusia termasuk oleh etnis Melayu di dunia ini. Oleh karena itu membahas tentang Melayu di satu sisi dan Islam di sisi lain adalah sesuatu yang sangat menarik. Hal ini karena diantara keduanya terdapat benang merah yang berkaitan dengan apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana Melayu dan Islam itu di masa datang.

Agama Islam diyakini telah hadir di Jambi sekitar abad 7 M dan berkembang menjadi agama kerajaan setelah abad 13 M. Orang Parsi (Iran), Turki dan bangsa Arab lainnya telah hadir di pantai timur Jambi sekitar abad 1 H (abad 7 M). Dalam catatan I-Tsing disebutkan bahwa sewaktu ia mengunjungi Melayu (Mo-lo-yeu), ia menumpang kapal Persia (Iran). Pada masa itu di Iran, agama Islam telah menyebar dalam masyarakatnya. Walaupun perkiraan kehadiran Islam di Jambi sekitar abad 7 M namun penyebarannya masih terbatas pada segelintir orang tertentu saja, terutama di kalangan rakyat pedagang di sekitar kota pelabuhan dan bandar-bandar.

Menjelang akhir masa kejayaan Melayu Budhis yakni masa pemerintahan Tun Telanai (1080 - 1168 M), bersamaan di Ujung Jabung sedang berkuasa seorang raja daerah (Jenang) bernama Tuan Puteri Selaro Pinang Masak. Pada masa itu pelabuhan Muara Tebo, Muara Tembesi, Jambi dan Muara Kumpeh, serta Labuhan Dagang sedang ramai dikunjungi pedagang manca negera termasuk dari Turki. Seorang penyebar Islam dari Turki bernama Achmad Barus II beserta pengikutnya sampai di Ujung Jabung dan menetap di pulau Berhala. Achmad Barus II dipanggil oleh masyarakat Jambi dengan sebutan Datuk Paduko Berhalo. Ia adalah putra Sultan Turki bernama Sultan Saidina Zainal Abidin, dari keturunan ke-7 silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW. Dalam sejarah Jambi disebutkan bahwa Datuk Paduko Berhalo menikah dengan Tuan Puteri Selaro Pinang Masak dan melahirkan banyak keturunan yang menjadi raja Jambi. Dan salah seorang keturunannya yang terkenal ialah Orang Kayo Hitam. Kemudian Orang Kayo Hitam ini menjadi raja pula di Jambi.

Kehadiran dan pernikahan Datuk Paduko Berhalo dengan Tuan Puteri Selaro Pinang Masak sangat berarti bagi sejarah Islam di Jambi karena beberapa hal penting, yaitu:
Penyebaran Islam di dalam keraton berlangsung dengan jalan damai.
Memudahkan penyebaran Islam ke tengah-tengah masyarakat di pedalaman Jambi.
Sebagai titik awal proses pergeseran sistem nilai budaya dari Kebudayaan Melayu Budhis menuju kebudayaan Melayu Islam.
Penyebaran Islam masih dteruskan oleh raja berikutnya pada masa pemerintahan Orang Kayo Hitam (1270 – 1340 M). Semasa pemerintahannya ia meneruskan penyebaran ajaran Islam ke seluruh pedalaman Jambi terutama mengislamkan terlebih dahulu raja daerah (Rantau) dan keluarganya. Dalam catatan sejarah Jambi mula-mula Orang Kayo Hitam mengislamkan 4 bersaudara dari keluarga raja di Rantau Batanghari yakni:
Sunan Pulau Johor
Sunan Kembang Seri
Sunan Muaro Pijoan
Dan adik perempuannya.
Orang Kayo Hitam selama hidupnya melakukan banyak hal dan berjasa bagi Islam di Jambi. Salah satu di antaranya adalah mengislamkan penduduk Jambi seperti tertulis di dalam Pasal 36 Piagam Jambi.











Terjemahannya:
Pasal yang tiga puluh enam: Pri menyatokan awal Islam di Jambi zaman Orang Kayo Hitam bin Datuk Paduko Berhalo yang mengislamkannyo. Kepado hijrat Nabi Sallallahi Alaihi Wassalam 700 tahun kepado tahun Alif bilangan Syamsiah, dan kepado sehari bulan Muharam, hari Kemis, pada waktu zuhur, maso itulah awal Islam di Jambi mengucap duo kalimat Syahadat, sembahyang limo waktu, puaso sebulan ramadhan, zakat dan fitrah, barulah berdiri rukun Islam yang limo.

Metode penyebaran Islam yang diterapkan oleh Orang Kayo Hitam adalah melalui kinerja pegawai syarak. Di setiap dusun diangkat oleh raja pegawai syarak dan di dusun-dusun yang tergolong besar diangkat pula seorang kadi. Pegawai syarak tersebut adalah sebagai berikut:
Imam Masjid
Khotib
Bilal
Mudim
Kadi (Hakim Agama)
Raja memberikan tugas kepada pegawai syarak untuk menata kehidupan beragama dan menyebarkan agama Islam dikalangan penduduk yang masih beragama Budha maupun penganut animisme dan dinamisme. Lambat laun hampir seluruh penduduk negeri Jambi telah memeluk agama Islam, sisanya yang belum Islam hingga kini adalah sebagian kecil komunitas Suku Anak Dalam (Kubu). Pada saat ini, proses Islami pada Orang Kubu masih berlanjut dan belum berakhir.

Kemunduran kebudayaan Melayu Budhis di Jambi sekitar abad 11 – 14 M menjadi pendorong perkembangan kebudayaan Melayu Islam di Jambi. Periodesasi kebudayaan Melayu Islam di Jambi adalah sebagai berikut:
Kehadiran agama Islam akhir abad 7 M.
Masa penyebaran Islam 11 - 12 M.
Masa Perkembangan sekitar abad 13 - 15 M.
Masa kejayaan sekitar abad 16 - 17 M.
Kejayaan kebudayaan Melayu Islam Jambi dimulai masa pemerintahan Sultan Abdul Kahar (1571 – 1643 M) dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Agung (1643 – 1665 M). Pada masa kejayaannya maka kebudayaan Melayu Islam mampu menggantikan posisi kebudayaan Melayu Budhis sebagai pusat ide dan inspirasi masyarakat. Dalam perkembangannya ternyata pengaruh Islam sangat mendalam tertanam di hati dan jiwa orang Melayu Jambi mencakup segala aspek kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik dan pemerintahan, kepercayaan, hukum adat, pendidikan, bahasa, dan adat istiadat.

Makanan Khas Jambi

Gulai Ikan Patin (Patin Fish Curry)
Gulai Ikan Patin adalah masakan yang populer di masyarakat Jambi.Gulai ini dimasak dengan menggunakan tempoyak yaitu daging buah durian yang telah difermentasi. Tetapi ada sebagian orang yang memilih untuk mengganti tempoyak dengan santan kelapa untuk menghindari bau dan rasa tempoyak yang cukup menyengat. Selain tempoyak bumbu lain yang digunakan dalam pembuatan Gulai Ikan Patin ini adalah cabe merah, lengkuas, serai, kunyit, bawang merah dan bawang putih.










Padamaran (Steamed rice flour pudding)
Makanan ini terbuat dari tepung beras, santan dan gula merah sebagai pemanis. Bahan-bahan ini kemudian ditempatkan di sebuah cup yang terbuat dari daun pisang, lalu dikukus hingga matang. Warna hijau dan aroma yang khas dari makanan ini berasal dari daun pandan yang ditumbuk dan diambil sarinya.










Dendeng Batokok
Dendeng Batokok adalah irisan daging sapi yang direbus dalam air kelapa yang telah dibumbui bawang putih dan jahe. Air kelapa berguna untuk mengempukan daging. Setelah cukup empuk daging ditiriskan lalu di memerkan dengan cara dipukul-pukul dengan palu,selanjutnya daging ini dibakar.Setelah matang daging ini dicampur dengan sambal merah. Masakan ini berasal dari Kabupaten Kerinci, kawasan dataran tinggi di Provinsi Jambi. Masakan ini sangat cocok dimakan bersama nasi dari beras payo.










Nasi Minyak (Spice-Flovored Rice)
Nasi Minyak adalah beras yang dimasak bersama susu, saos tomat, minyak samin dan rempah-rempah seperti jahe, jintan manis, jintan putih, kayu manis dan cengkih. Pengaruh masakan Arab terasa sangat kental pada makanan ini. Nasi minyak biasanya disajikan pada acara-acara khusus seperti pesta pernikahan, acara cukuran anak dan acara khusus lainnya.
Nasi minyak ini disajikan bersama dengan kari sapi atau ayam dengan tambahan acar timun,sambal nanas, kerupuk udang dan taburan bawang goreng.










Empek-empek

Pempek atau Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan tengiri atau gabus dan sagu.Daging ikan dibersihkan adri kulit dan tulang kemudian dicampur dengan tepung kanji dan bumbu. Adonan ini kemudian dibentuk seperti silinder atau bulat-bulat seperti biasa.Meskipun merupakan makanan asli daerah Palembang tetapi menjadi makanan yang sangat populer juga di Jambi karena letaknya yang berdekatan dengan Provinsi Sumatera Selatan.Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko. Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam.Salah satu pelengkap dalam menyantap makanan berasa khas ini adalah irisan dadu timun segar dan mie kuning.Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal selam", yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama "ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.











Tekwan
Tekwan adalah makanan khas Palembang yang juga sangat populer di Jambi. Makanan ini terbuat dari ikan dan sagu yang dibuat dalam ukuran kecil-kecil. Disajikan dengan menggunakan kuah dengan rasa yang khas dan dilengkapi bihun serta jamur. Tekwan dibuat dengan cara membuat bulatan-bulatan kecil dari bahan dasar empek-empek dan dimasukkan air mendidih sampai matang lalu tiriskan (disebut biji tekwan). Lalu bawang merah dan bawang putih, merica ditumis sampai berwarna kuning dan harum. Kemudian Udang/kepala udang direbus dengan air, baru masukkan tumisan bumbu dan diberi bengkoang yang diiris sepotong jari, soun, sedap malam, jamur kuping dan biji tekwan.Tekwan biasanya dihidangkan dalam kondisi panas-panas dengan taburan daun bawang, daun seledri dan bawang goreng.









Martabak Mesir
Martabak Mesir dibuat dengan cara mencampur daun bawang dalam jumlah yang banyak dengan telur dan daging sapi cincang. Campuran itu kemudian dibungkus dengan adonan tebung yang
sangat tipis kemudian digoreng dalam minyak panas. Martabak ini dimakan dengan saus kecap encer yang dicampur cuka dengan tambahan acar timun dan cabe rawit.Martabak Mesir merupakan makanan khas Minang tetapi sangat populer di Jambi.

FKIP Universitas Jambi





Visi, Misi, dan Tujuan FKIP Universitas jambi

VISI
Mewujudkan fakultas yang dapat menjadi wadah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan, sikap, etik akademik, dan keterampilan profesional keguruan dan kependidikan sesuai dengan keilmuan serta memiliki daya saing sejalan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial budaya.

MISI
Melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi secara profesional dan beretika dengan memberdayakan segenap potensi yang ada untuk meningkatkan kualitas pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat

TUJUAN
Tujuan FKIP Universitas Jambi adalah untuk membina dan mengembangkan SDM yang memiliki kualitas sebagai berikut :

berjiwa Pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi serta bersifat terbuka, tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu dan teknologi, maupun masalah yang dihadapi masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan bidang kependidikan,

mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan teknologi bidang kependidikan dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat serta menguasai dasar-dasar ilmiah, pengetahuan, dan teknologi kependidikan sehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan, dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada di dalam kawasan kependidikan.